Minggu, 06 Februari 2011

Potensi Obat Alami Dalam Penanggulangan HIV dan AIDS


PDF Print
Written by Kris_ITD   
Potensi Obat Alami Dalam Penanggulangan HIV dan AIDS
Kementerian Riset dan Teknologi dalam peran serta upaya penanggulangan HIV dan AIDS sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang dimiliki, melakukan penelitian dan pengembangan bidang  kesehatan dan obat, demikian dikatakan  Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Suharna Surapranata saat membuka workshop “Upaya Biomedik dalam Eksplorasi Obat Alternatif/Komplementer Bagi Pasien HIV dan AIDS” di Ruang Komisi Utama BPPT, 2 Desember 2009. Kegiatan penelitian dan pengembangan bidang kesehatan dan obat tersebut, diarahkan untuk memberikan penyelesaian berbagai masalah utama kesehatan.
Prioritas penelitian dan pengembangan bidang kesehatan dan obat meliputi: 1) pencapaian gizi seimbang; 2) pengembangan industri farmasi; 3) pengembangan bahan obat alam; 4) pengembangan vaksin, sera dan biofarmasi; 5) pengendalian penyakit; 6) pengembangan alat kesehatan; dan 7) penerapan teknologi genomik, proteomik dan teknologi nano.

Pengendalian penyakit menular, termasuk HIV dan AIDS, merupakan salah satu isue penting. Namun menurut Menristek Suharna Surapranata, sangat disayangkan karena dari daftar penelitian yang termasuk didalam program insentif KNRT yang baru diusulkan untuk didanai pada tahun 2010, belum banyak penelitian tentang HIV dan AIDS. Hal ini menjadi tantangan bagi para periset/ peneliti untuk menyusun proposal penelitian bertema HIV/AIDS.

Perhatian pada upaya biomedik dalam menemukan obat dan atau supplement alternatif bagi pengobatan pasien HIV dan AIDS di Indonesia masih rendah. Padahal, banyak peneliti dunia yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh mencari solusi dari penyakit yang sangat mematikan itu.
Penyelenggaraan workshop ini diharapakan antara lain seperti mapping kegiatan penelitian biomedik terkini yang dilakukan oleh peneliti nasional maupun global terkait dengan penyakit HIV dan AIDS; menyusun format dan fokus penelitian dan pengembangan obat alternatif bagi pasien HIV dan AIDS di Indonesia dan yang terakhir dapat menyusun rencana aksi pengembangan obat/supplemen alternatif untuk pasien HIV dan AIDS.

Potensi Obat Alami
Salah satu area prioritas penanggulangan HIV dan AIDS yang tercantum dalam Strategi Nasional Penangugulangan HIV dan AIDS 2007-2010 adalah Penelitian dan Riset Operasional. Didalam program tersebut, area prioritasnya  adalah Program Penelitian Obat Tradisional HIV dan AIDS. Indonesia yang kaya dengan flora dan fauna sebagai sumber bahan pembuatan obat-obatan, maka penelitian diarahkan untuk mencari bukti-bukti ilmiah tentang obat-obatan tradisional dan sekaligus mencari peluang lain.

Suprapto Ma'at, dosen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dalam presentasinya berjudul “ Peranan dan Potensi Obat Alami dalam Penanganan HIV/AIDS di Indonesia” mengatakan bahwa  potensi kekayaan sumber daya alam hayati yang begitu luas merupakan sumber senyawa yang aktif yang selain bisa menghambat replikasi virus HIV dan AIDS juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Beberapa tanaman / tumbuhan obat Indonesia yang diyakini mempunyai potensi tersebut antara lain lidah buaya (Aloe vera), temu ireng (Curcuma aeruginosa), jamu biji (Psidium guajava), Sambiloto (Andrigraphis paniculata), Meniran (Phyllantus urinada Linn), Kunir (Curcuma domestika), Mengkudu (Morinda citrifolia) dan Brotowali (Tinospora cordifolia).

Lebih lanjut, Suprapto menganjurkan adanya “Skrinning in vitro obat herbal untuk HIV/AIDS tersebut. Namun sayangnya di Indonesia, masih terkendala adanya laboratorium virus yang memadai untuk melakukan kultur sel. Jadi, diperlukan laboratorium setingkat BSL-2 dan BSL-3,” demikian ungkapnya.
Penggunaan obat alami juga sudah dilakukan di negara maju seperti Amerika. Aloe vera (Lidah Buaya), yang dikenal juga dengan nama  Acemannan, yaitu suatu  polisakarida asetilasi yang bersifat antitumor, imunostimulan dan antiviral. Acemannan dikembangkan di Laboratorium Carrington USA untuk pengobatan AIDS yang dikombinasi dengan Zidovudin, uji klinik tahap I dilakukan di USA dan tahap II dikerjakan di Canada.” Hasil di Canada menyebutkan bahwa penderita HIV/AIDS setelah menerima pengobatan dengan Acemennan terjadi peningkatan limfosit T-helper (CD4) dan perbaikan parameter virologik dibandingkan dengan plasebo, ujar Suprapto.
Menurut Fedik A. Rantam dari Universitas Airlangga, pengobatan dengan menggunakan sel punca (stem cell) saat ini juga memberi harapan baru bagi para penderita terutama penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan secara konvensional. Lebih lanjut, Fedik A. Rantam mengatakan penelitian dibidang penyakit dalam, saat ini sedang dilakukan penelitian untuk mengembangkan  sel hematipetik. Maka dari sel itu didapatkan sel limfosit T CD 4 yang bisa digunakan untuk menerapi penderita AIDS.
“Selama melakukan pengobatan sel punca (stem cells), terapi dengan obat ARV (antiretroviral) tetap dilakukan. Obat itu sangat diperlukan bagi pasien AIDS untuk memperbaiki sistem kekebalan akibat HIV serta memulihkan kerentanan pasien tersebut terhadap infeksi opurtinitis. Jadi, terapi obat dengan terapi sel induk saling melengkapi sehingga kualitas hidup pasien AIDS lebih baik.”, ujar Fedik A. Rantam.

Workshop ini dihadiri sekitar 70 orang yang berasal dari Menkokesra, Depkes, LPND RISTEK, BPOM, Dikti, WHO, KPAN, UNESCO, HCPI, IDI, ISFI
, ITD UNAIR, IHVCB, Akademisi/Peneliti/Universitas/Perguruan Tinggi, Rumah Sakit terkait, Industri terkait,  dan pihak-pihak terkait yang melakukan riset HIV/AIDS (humasristek/WB)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar